Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 Mei 2013
Hak Minoritas dan Peran Negara: Menguji Argumen Multikulturalisme*
Hikmat Budiman
“Under
the doctrine of state multiculturalism, we have encouraged different
cultures to live separate lives, apart from each other and the
mainstream. We have failed to provide a vision of society to which
they feel they want to belong.” (David William Donald Cameron,
Perdana Menteri Inggris)i
Problematik
Minoritas
Seorang
individu menjadi bagian dari minoritas karena keterikatannya pada
etnik/ras/nasionalitas, agama, kelompok kultural, jenis kelamin,
preferensi seksual tertentu, atau pengelompokan-pengelompokan sosial
lainnya. Kymlicka (1991 dan 2005) menggunakan ungkapan keanggotaan
kultural (cultural membership) untuk mendepiksikan keterikatan
tersebut. Identitas individu berjalinan dengan identitas-identitas
kolektif dan hanya bisa ditetapkan dalam sebuah jaringan kultural
yang bukan lagi privat sifatnya (Habermas, 1991: 129).
Read More »
Label:
Politik
,
Sosial-Budaya
Kekerasan Atas Nama Agama: Perspektif Politik*
Cornelis
Lay**
Kekerasan:
Diskusi Pembuka
Kekerasan
merupakan fenomena politik dan sosiologis yang bersifat universal. Ia
dapat berlangsung pada level individual, kolektif, institusi, maupun
sistem secara keseluruhan. Kekerasan bisa berlangsung secara
horisontal pada masing-masing leveli,
tetapi bisa juga berlangsung secara vertikal atau kombinasi di antara
keduanya.ii
Kekerasan juga bisa berlangsung secara terbuka, tetapi juga bisa
bersifat tertutup, sebagaimana diekspresikan dengan sangat baik dalam
kekerasan domestik yang umumnya menempatkan kaum perempuan dan
anak-anak sebagai korban.
Read More »
Label:
Agama
,
Politik
,
Sosial-Budaya
Jumat, 26 April 2013
Myanmar’s Rohingya Dilemma*
Tin Maung
Maung Than & Moe Thuzar **
In
the past, the people who called themselves “Rohingya” had to contend with
successive military governments’ indifference to recognizing — or regularizing
- their status as persons living on the territory of Myanmar. The latest
incidence of anger against the Rohingyas, however, did not have immigration
woes at its source. An unfortunate crime of rape and murder — committed by
Muslim men against a Buddhist woman in a strongly nationalistic state —
escalated into communal violence fraught with racial and religious undertones.
The views, many of them inflammatory, on social media platforms indicate
deep-seated prejudices that threaten the unconsolidated stability in Myanmar
under President Thein Sein’s reform-minded administration.
Read More »
Label:
Sosial-Budaya
Kontruksi Teori-Teori Dalam Perspektif ”Kajian Budaya Dan Media”
S. Arifianto
Pendahuluan
Kajian
budaya dan media (cultural studies and media) sering disebut sebagai wilayah
kajian multi-disiplin. Artinya kajian
yang dimaksud lebih mengakar pada lintas disiplin ilmu humaniora. Kajian
tersebut merupakan sebuah fenomena pascamodern dalam dunia akademis tentang
mengaburnya batas-batas antar-disiplin ilmu.Jika dilihat dari sudut pandang
nominalis disiplin’sebenarnya konsep ini hanyalah merupakan istilah untuk melegitimasi
metode dan teori-teori dalam kajian yang bersangkutan.Kajian ini lebih melihat
berbagai persoalan media dari perspektif budaya. Tetapi yang sering luput dalam
perbincangan tentang lintas-disiplin dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora bahwa
gagasan lintas-disiplin dalam kajian budaya dan media itu sendiri masih juga
melibatkan gagasan tentang perlintasan antara teori dengan tindakan. Inilah
persoalan pokok yang di anggap mampu membedakan antara kajian budaya dan media
dengan displin lainnya.
Read More »
Label:
Sosial-Budaya
Proses Internalisasi Nilai-Nilai Budaya *
Resminawaty
dan Atik Triratnawati
Program Studi Antropologi
Program
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Pendahuluan
Beberapa
tahun belakangan ini bermunculan berbagai literatur yang membahas remaja dan
penyimpangan perilaku seksual. Di antaranya hasil penelitian Mudjijono
(2000:43) mengenai remaja yang memasuki dunia pelacuran sebagai pekerja seks
banyak terjadi di Pasar Kembang, Yogyakarta. Mereka ada yang berusia remaja.
Penelitian lainnya oleh Iskandar (2001:94-97) mengenai lingkungan pergaulan “anak
gaul” di Bandung yang kebanyakan ke kafe-kafe, pub, karaoke, dan
diskotek. Tempat-tempat seperti itu ditengarai sebagai tempat yang memungkinkan
terjadinya tindak kriminalitas.
Read More »
Label:
Sosial-Budaya
Kamis, 25 April 2013
Intelektual dan Sosialisme*
F.A.
Hayek
Di semua
negara yang demokratis, terutama di Amerika Serikat, ada keyakinan yang kuat
dan mengemuka bahwa pengaruh kelompok intelektual terhadap politik tidak
signifikan. Tanpa keraguan, memang benar, begitulah kekuatan kelompok
intelektual dalam mempengaruhi berbagai keputusan melalui opini-opini mereka
yang asing pada suatu momen, dan memang sejauh itulah tingkat pengaruh mereka
pada suara populer terhadap pertanyaan-pertanyaan di mana pandangan mereka
berbeda dari pandangan massa. Namun dalam periode yang lebih panjang pengaruh
kelompok intelektual di negara-negara tersebut mungkin belum pernah sebesar
saat ini. Kekuatan ini mereka kerahkan melalui pembentukan opini publik.
Read More »
Label:
Politik
,
Sosial-Budaya
Ulama: Mendayung di antara Banyak Karang*
Ulil Abshar-Abdalla
I
Munculnya ide “negara Islam” sebagai proyek politik, dengan demikian, tidak dengan sendirinya menaikkan reputasi dan pengaruh ulama sebagai kelas sosial. Dalam praktek sehari-hari, apa yang disebut “negara Islam” biasanya hanya menguntungkan dua pihak: kalangan modernis atau Islamis/revivalis. Sementara kalangan ulama sendiri cenderung berada pada pinggiran, dan kurang memainkan peran yang penting dalam administrasi atau penyelenggaraan lembaga yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam sendiri, seperti madrasah misalnya. Dengan kata lain, proyek negara Islam, pada akhirnya, mewarisi sindrom politik serupa yang dialami oleh negara nasional non-agama yang lain. Negara-negara nasional yang lahir pasca era kolonial ini, termasuk di negeri-negeri Muslim sendiri, pada akhirnya dihadapkan pada imperative konsolidasi negara, unifikasi sistem hukum, reformasi lembaga-lembaga sosial, yang keseluruhannya cenderung menempatkan kelas ulama pada posisi defensif.
Read More »
Label:
Agama
,
Sosial-Budaya
Selasa, 23 April 2013
Cerita Fabel dan Drama Manusia
Abubakar Mangun
Dari sekian buku yang berjejer dan
ditawarkan kepada pengunjung dalam acara bazar buku murah di Yogyakarta (1-5/3),
buku yang menarik bagi saya adalah buku dongeng. Buku dongeng ini berjudul Kisah Legenda Sang Kancil karya Gamal K
(2003). Buku dongeng ini dipertegas dengan kalimat dongeng sebelum tidur untuk penunjang pendidikan moral dan budi
pekerti.
Read More »
Label:
Sosial-Budaya
Membangun Harmoni Mencipta Perdamaian*
Evi Rahmawati
Lagipula, berbeda pandangan merupakan hak paten
sebuah negara yang menganut sistem deokrasi. Bukan hanya itu, hak ini juga,
dalam konsepsi political rights, tidak bisa dilepaskan dari dua hak lainnya
yang saling berkelindan: hak untuk mengekspresikan pendapat serta hak untuk
berserikat. Jika seseorang memiliki suatu pandangan tertentu, maka ia juga
punya hak untuk menyuarakan pandangannya serta mengorganisir masyarakat yang
memiliki pandangan serupa. Sebagai idealisme HAM, ini merupakan tiga hak dalam
satu paket, tegas Ulil. Dan peran negara adalah hadir dengan kesadaran serta
tanggung jawab untuk melindungi tiga hak tersebut. Manakala negara sadar akan
peran pentingnya ini, maka akan ada satu upaya untuk memproduksi serta
menegakkan hukum yang bisa mengakomodir ketiga hak tersebut.
Read More »
Label:
Sosial-Budaya
Senin, 22 April 2013
Reposisi Anak Jalan ke Jubeti di Makassar*
Abubakar
Mangun
Anak
jalanan yang menjadi Jubeti, adalah bagian dari pilihan rasional sekaligus
menjalankan praktik kuasa. Dengan ide yang dimiliknya, mereka mendefinisikan
sendiri bahwa belokan adalah lahan anak jalanan dan kuasa atasnya ada di
tangannya.
Read More »
Label:
Sosial-Budaya
Langganan:
Postingan
(
Atom
)